Minggu, 01 Desember 2013

TUGAS MENULIS mohamad adam fatim

         Dalam pemberitaan di media massa, masalah penyadapan yang dilakukan oleh Australia terhadap Presiden RI, Susilo Bambamg Yudhoyono mengakibatkan dampak yang buruk bagi hubungan bilateral yang terjalin selama ini. Masalah tersebut mungkin dapat dihindari jika sistem keamanan di Indonesia tidak begitu buruk jika dibandingkan dengan sistem keamanan negara-negara lainnya. Namun, hal tersebut kembali lagi pada sumber daya manusia yang mengoperasikan sistem keamanan tersebut. Jika tidak lalai, kejadian seperti penyadapan tersebut tidak akan terjadi.

         Menindaklanjuti hal itu, Menteri Pertahanan Indonesia Purnomo Yusgiantoro menyatakan. Indonesia harus mengembangkan sistem pertahanan cyber dan memiliki satelit khusus sendiri untuk kepentingan sektor Pertahanan, Keamanan, Intelijen luar negeri. Terkait hal tersebut, rencananya akan dimasukan dalam program anggaran 2014. Pertahanan cyber yang akan dibangun itu, tutur dia, nantinya akan ada dibawah kendali Kementerian Pertahanan guna sistem keamanan dan pertahanan, dalam hal ini Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Intelijen Strategis (Bais), Lembaga Sandi Negara (Lemsagneg) dan Polri.

         Purnomo menerangkan, cyber ada 2 institusi yang menangani. Yakni pertahanan cyber di bawah Kementerian Pertahanan yang dioperasikan oleh TNI. Sedangkan kriminal cyber di bawah kewenangan Polri. Tak luput Purnomo menjelaskan, TNI Angkatan Darat telah lama memiliki cyber pertahanan, meski memang sifatnya sewaan dari pihak luar. Purnomo menambahkan, ke depan pemerintah harus memiliki satelit sendiri. Khusus untuk sistem pertahanan, agar tidak mudah disadap oleh pihak asing.


0 komentar :

Posting Komentar